Invasi Informasi di Medsos, KH Faqih Usman: Bacalah Agar Tidak Gagap

MOJOKERTO - Menjamurnya teknologi berbagis internet, dewasa ini memang memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi dan menambah wawasan. Namun, di lain sisi, masyarakat juga harus pintar memilah inti dan maksud pesan yang beredar tersebut. Sebab, tidak jarang netizen sangat mudah terjerumus oleh faham-faham yang mencoba merobohkan kokohnya Negara Kestuan Republik Indonesia (NKRI).

Salah satu cara untuk memerangi ‘penyakit’ tersebut adalah meningkatkan minat baca, baik dengan media buku maupun bacaan lainnya. Pesan itu disampaikan Mustasyar PC NU Kota Mojokerto, KH Faqih Usman saat memberi sambutan di Pelatihan Jurnalis Guru Madrasah di MI Nurul Huda, Sabtu (10/12).

Kiai Faqih, sapaan akrab KH Faqih Usman menjelaskan, tantangan yang dihadapi di masa depan akan lebih kompleks. Sehingga, dengan meningkatkan minat baca, generasi muda, khususnya warga Nahdliyin akan mempunyai wawasan yang lebih luas. Mereka tidak akan mudah diombang-ambing oleh isu tidak jelas yang dengan mudah beredar melalui media sosial. Terutama meningkatnya faham keagamaan yang keras akhir-akhir ini.

“Hari ini, banyak masyarakat maupun organisasi yang gampang menyalahkan orang lain, mengkafirkan orang lain,” tegasnya.

Kerasnya pandangan keagamaan sejumlah kelompok masyarakat ini, lanjut kiai yang juga Ketua FKUB Kota Mojokerto ini, bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Pasalnya, perilaku intoleransi akan meningkat di sejumlah daerah. Karena kelompok-kelompok ini menganggap hanya diri dan kelompoknya yang benar.

Sementara kelompok yang lain salah. Sehingga, kelompok ini akan menutup diri dari kebenaran lain yang ada di luar lingkungan kelompok tersebut. “Walisongo sudah membuktikan, bahwa dakwah dengan cara lunak dan halus justru bisa mengislamkan penduduk Jawa,” tambah beliau.

Kekhawatiran Kiai Faqih berbanding lurus dengan data UNESCO, badan Perserikatan Bangsa-bangsa yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan. Minat baca masyarakat Indonesia baru 0.001 persen. Artinya, dalam seribu warga hanya ada satu yang memiliki minat baca. Sementara akses internet melalui berbagai media seperti laptop maupun handphone telah dimiliki oleh 132, 7 juta penduduk Indonesia atau lebih dari separuh jumlah penduduk.

“Media sosial, aplikasi chatting di handphone hari ini merupakan sumber berita tidak benar dan mengeraskan intoleransi. Kalau tidak dilawan dengan menambah pengetahuan melalui membaca, maka banyak dari kita dan anak cucu kita akan termakan isu tersebut,” pungkasnya. (ara/mus)

BERITA LAINNYA