Apakah Rabu Wekasan Tradisi Islam?

Oleh: Ahmad Saifulloh 

KEHIDUPAN keagamaan (Islam) masyarakat di Indonesia sejak awal penyebaran sampai perkembangannya selalu diwarnai dengan persinggungan antara ajaran Islam itu sendiri dengan tradisi yang telah menjadi kultur masyarakatnya.

baca: Tradisi Bubur Sruntul dan Rabu Wekasan

Banyak dialog yang terjadi antara ajaran Islam dengan tradisi yang telah diyakini sebuah kemunitas masyarakat, bahkan dalam kerangka mengakomodir kebutuhan sosial, sebuah tradisi terkadang diiringi dengan dasar-dasar keagamaan sebagai penguat pelaksanaannya.

Salah satu yang sudah masyhur di kalangan masyarakat adalah tradisi Rabu Wekasan. Ya, hari Rabu terakhir yang berada di bulan Safar pada penanggalan Hijriyah.

Meskipun belum ada data yang benar-benar valid terkait Rabu Wekasan ini, apakah murni sebuah tradisi atau ada anjuran di dalam ajaran Islam. Akan tetapi, tradisi Rabu Wekasan telah terjadi, dan diyakini sebagian masyarakat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu.

Tradisi yang ada di dalam Rabu Wekasan ini erat kaitannya dengan keyakinan suatu masyarakat akan adanya mara bahaya yang akan terjadi.  Maka dilakukanlah suatu aktivitas yang diistilahkan dengan tolak balak (menolak bahaya).

Yang berupa tradisi berbagi makanan antarmasyarakat atau diistilahkan dengan sedekah, dalam rangka menghindarkan diri dari bahaya yang dapat membahayakan kehidupan. Baik berupa bencana, penyakit, ataupun kematian.

Bahkan, sebagian masyarakat Jawa, ada yang mengkhususkan dalam bentuk makanan yang akan disedekahkan. Yakni, berupa makanan bubur yang terbuat dari beras ketan yang diselingi dengan buliran-buliran ketan dan disirami dengan gula Jawa.

Yang biasa disebut dengan bubur seruntul atau bubur candil. Sehingga melahirkan hubungan tradisi di dalam Rabu Wekasan sangat erat kaitannya dengan bubur seruntul atau bubur candil.

Dalam Islam istilah Rabu Wekasan, diidentikkan dengan hari ke-naas-an atau kesialan (yaumi nahsin). Seperti disebutkan dalam hadits Nabi dalam Faidh Al-Qadir, juz 1, hal. 45, Rasulullah bersabda: ”Akhiru Arbi’ai fi al-syahri yawmu nahsin mustammir (Rabu terakhir setiap bulan adalah hari sial terus, Red).”

Juga di dalam QS. Alqamar, ayat 18-20 menyebutkan: ’’Kaum ‘Aad pun mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-K. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pohon kurma yang tumbang”.

Imam Al-Bagawi dalam tafsir Ma’alim al-Tanzil menceritakan, bahwa kejadian itu (fi yawmi nahsin mustammir)  tepat pada hari Rabu terakhir bulan Safar.

Dalam kesempatan yang lain Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulullah,

"Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa." (H.R.Imam al-Bukhari dan Muslim).

Dari dua hadits di atas yang terkesan bertentangan, ada upaya untuk mengompromikan kedua hadits tersebut (dalam ulum al-hadist disebut dengan mukhtalif al-hadits) yang memiliki makna, bahwa kesialan yang terus menerus itu hanya berlaku bagi yang mempercayai.

Karena hari-hari itu pada dasarnya netral, mengandung kemungkinan baik dan jelek sesuai dengan ikhtiar perilaku manusia dan ditakdirkan Allah. Berdasar pada teks Alquran dan Hadits di atas inilah yang melandasi adanya penyikapan dalam bentuk peribadatan khusus dalam Islam.

Sebagian ulama (tasawuf) merumuskan dengan melaksanakan salat-salat sunnah tertentu. Salah satu yang masyhur terkait ibadah pada Rabu Wekasan ini adalah melakukan shalat 4 rakaat (nawafil, sunnah). Di mana setiap rakaat setelah Alfatihah dibaca surat Alkautsar 17 kali lalu surat Alikhlas 5 kali, surat Alfalaq dan surat Annaas masing-masing sekali, lalu setelah salam membaca doa.

Mengenai amalan-amalan tersebut di atas, menurut hemat penulis adalah bukti adanya dialog antara sebuah tradisi yang ada dimasyarakat dengan keutaman-keutaman anjuran dalam agama Islam.

Karena dalam konteks kehujjahannya, ibadah khusus terkait momen Rabo Wekasan hanya sebatas fadloilul a’mal yang disandarkan pada salah satu redaksi hadits yang berstatus dloif. Dan, pada saat yang bersamaan Rabu Wekasan ini menjadi tradisi yang telah hidup di tengah-tengah masyarakat. Wallahu a’lam.

*)Penulis adalah Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Mojokerto

 

BERITA LAINNYA