Tradisi Bubur Sruntul dan Rabu Wekasan

Oleh: Ayuhanafiq

ADA satu tradisi hari tertentu yang hidup di tengah masyarakat Jawa hingga saat ini. Tradisi itu dikenal dengan Rabu Wekasan. Tradisi ini diyakini dapat menolak bala (bahaya) selama setahun ke depan.

Masyarakat yang mengamalkannya akan melakukan dengan melakukan salat hajat berjamaah dan berdoa bersama. Dalam kehidupan beragama pada penganut Islam di Jawa memang dikenal memiliki banyak tradisi unik.

Salah satunya adanya keyakinan akan satu hari di mana Allah SWT menurunkan bala ke dunia. Hari tersebut adalah hari Rabu terakhir di bulan Safar. Untuk menghindari diri dan keluarga atas bala tersebut masyarakat kemudian melakukan ritual-ritual tertentu.

Di mana, ritual tersebut sudah ada sejak ratusan tahun diperkenalkan oleh para penyebar Agama Islam di tanah Jawa. Mereka menjadikan Rabu Wekasan sebagai sarana agar Islam lebih dikenal oleh masyarakat Jawa yang masih belum menganut Islam.

Pada umumnya masyarakat pra-Islam memegang teguh keyakinan terhadap karma. Keyakinan itu yang kemudian diselaraskan dengan tata cara syariat Islam. Selain melakukan salat berjamaah di musala atau masjid, mereka juga bersedekah bubur sruntul atau biasa disebut dengan bubur candil.

Bubur beras yang dipadukan dengan butiran sruntul berbahan ketan itu diberikan pada tetangga sekitarnya. Untuk memberi rasa manis, bubur sruntul lalu diberi gula yang telah dicairkan dengan campuran kuah santan.

Keberadaan bubur sruntul sebagai bagian tradisi Rabu Wekasan saat tidak ada yang tahu makna filosofisnya. Seperti halnya tradisi manakiban dengan makan nasi kuning dan kare ayam, bubur sruntul melekat erat dengan tradisi lama, yakni Rabu Wekasan.

Makanan yang merupakan kreasi budaya untuk melengkapi amalan beribadah umat Islam di Jawa. Keberadaan tradisi Rabu Wekasan dengan bubur sruntul tersebut masih hidup hingga kini. Tradisi yang pada awalnya diperkenalkan oleh ulama terdahulu untuk menarik orang agar mau belajar agama Islam.

*)Penulis adalah Ketua KPU dan Sejarawan Kabupaten Mojokerto

BERITA LAINNYA