Implementasi Hak Asasi Dalam Alquran

Oleh : Ahmad  Saifulloh

BERBICARA tentang hak asasi dalam Alquran paling tidak adalah menginventarisir ayat-ayat yang berkenaan dengan eksistensi manusia dalam Al-Qur’an. Antara lain : Al-Baqarah [2] ayat 36 :

baca: Sikap Kita, Cerminan Masalah atau Bahagia Kita

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."

QS. Al-A’raf (7) ayat 24 :

”Menjadi musuh bagi sebahgian yang lain. dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan".

Dari kedua ayat di atas yang perlu digaris bawahi adalah kalimat ”wa lakum fi al-ardli mustaqqrun wa mata’un ilaa hiiniin”. Yang menggambarkan eksistensi hak. Partikel yang menunjukkan ”pemberian hak” (tamlik) adalah partikel lam dalam ungkapan lakum. Dengan kata lain keduanya secara tegas memberikan hak-hak atas Adam (khususnya) berupa bumi sebagai tempat tinggal serta hak untuk menikmati fasilitas yang ada di muka bumi.

Menurut Muin Salim, kedua hak di atas merupakan hak asasi manusia dari dua segi. Pertama, ungkapan Alquran tentang hak asasi manusia yang terakumulasikan dalam hak itu sendiri. Kedua, kedua hak tersebut di atas merupakan salah satu faktor bagi kehidupan manusia di bumi sebagai ketetapan Tuhan. Pengakuan Alquran terhadap hak asasi manusia (HAM) yang telah melekat sebagai manusia sewajarnya mengarah kepada dua hal.

Yakni, hak Istiqrar, yaitu hak untuk menetap dan berdiam diri di muka bumi. Dan hak al-Istimta’, yaitu hak untuk menggunakan fasilitas yang ada di muka bumi ini. Kedua hak di atas dapat diklasifikasikan secara parsial dalam bentuk yang lebih sederhana, seperti hak untuk hidup, hak memiliki, hak kemerdekaan beagama, dan hak menyatakan suatu pendapat. Yang kesemuanya itu merupakan pemberian Tuhan yang Maha Rahmat, serta perwujudan Keagungan Tuhan.

Hubungannya dengan ini, ajaran Islam menegaskan ketentuan dasar bahwa semua makhluk berstatus muhtaram, yakni menghormati eksistensi makhluk yang lainnya. Oleh karena itu anugrah dari Tuhan, maka tidak ada satu pun negara, pemerintah, atau lembaga masyarakat di dunia ini yang berwenang membuat perubahan menyangkut hak-hak tersebut. Dengan demikian setiap perlakauan yang merampas hak-hak tersebut berarti mengabaikan hak-hak yang telah diberikan Tuhan. 

Para pemikir dan intelektual muslim memiliki pandangan spesifik terhadap HAM, M. Hasby Ash-Shiddieqiy mengatakan, bahwa terdapat lima prinsip yang fundamental dalam Islam berkenaan dengan HAM. Pertama, Hak untuk hidup, keamanan, kehormatan, serta kekayaan. Kedua,  hak dalam kebebasan beragama sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. Ketiga, hak yang tidak dapat dicabut dari kepemilikannya yang mempunyai signifaksi terhadap sosial.

Keempat, hak atas kecocokan pekerjaan, dengan kata lain setiap orang bebas memilih pekerjaannya. Dan yang kelima, hak atas kebebasan berpikir, berekspresi, dan hak untuk memperoleh pendidikan yang tebaik.

Nur Kholis Madjid menyatakan, bahwasannya Islam mengenalkan hak individual sebagai hak sosial, hak asasi manusia mengarah kepada tanggung jawab terhadap kesejahteraan sosial. Hal ini didasarkan pada kesesuaian (kompatibility) dari nilai-nilai Islam dengan modernisasi.

Singkatnya, prinsip-prinsip tentang HAM dalam Islam meliputi: prinsip tentang persamaan antat manusia, prinsip tentang kebebasan pribadi, prinsip tentang keamanan, dan prinsip tentang keadilan. Sementara itu, di sisi lain manusia sebagai makhluk sosial manusia harus mewujudkan hak-hak asasi dalam setiap aspek kehidupan.

Dalam lingkungan masyarakat, bertukar kepentingan dalam hal muamalah, sampai pada pengakuan terhadap keberagaman yang ada dalam setiap segmen kehidupan mansusia sebagai ciri kehidupan yang berbudaya.  Hal ini sebagaimana terungkap dalam QS. Al-Hujurat (49) ayat : 13

”Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Bahwasannya, keragaman yang terjadi mengindikasikan kepada pengakuan atas hak-hak asasi dalam berbagai lingkupnya. Dikatakan demikian, karena dengan megakui adanya perbedaan secara tidak langsung juga mengakui eksistensi pihak lain yang sama-sama memiliki hak dan kewajiban masing-masing.

Selanjutnya, berkenaan dengan pengakuan atas hak sesama manusia, kita dihadapkan pada permasalahan hubungan horisontal antarmanusia itu sendiri. Mulai dari unit lingkungan terkecil, yakni keluarga, sampai kepada masyarakat secara makro. Mekanisme yang dilaksanakan dalam relasi ini adalah kesadaran atas hak-hak yang dimiliki masing-masing anggota serta solidaritas dalam mempertimbangkan kapasitas serta prioritas bersama.

Dalam konteks sistem bertetangga misalnya, sebagai lingkup terkecil dan paling sederhana dalam struktur masyarakat, kita dihadapkan pada beberapa kategori perlakuan hak (asasi) sesuai dengan status dalam tatanan ketetanggaan. Paling tidak terdapat tiga kategori tetangga.

Pertama, tetangga muslim dan kerabat, mereka ini memiliki tiga hak yang harus dipenuhi, karena selain sebagai sesama mslim ia juga sebagai berstatus kerabat dan hak-hak yang harus dipenuhi. Antara lain, haknya sebagai sesama muslim, haknya sebagai kerabat; seperti menyambung silaturahim, dan haknya sebagai tetangga dalam sikap saling tolong menolong, dan saling membantu.

Kedua, tetangga muslim tapi tidak menjadi kerabat memiliki dua hak, yakni hak sebagai sesama muslim dan hak sebagai tetangga, sebagaimana dipaparkan di atas. Dan ketiga, tetangga nonmuslim, kategori yang ketiga ini hanya memiliki satu hak yaitu hak sebagai tetangga. Akan tetapi dari kategori ketiga inilah sistem kehidupan bertetangga dalam Islam mengalami pengembangan dalam pengakuannya terhadap HAM.

Dikatakan demikian, karena ruang lingkup semakin lebar dan ranah yang jangkau juga semakin jauh. Seperti hak dalam kebebasan beragama, hak untuk tidak mengganggu dan diganggu, hak untuk menjaga dan dijaga kehormatannya, tidak tajassus  (spionase), ghibah, membuka aib orang lain, dan hak untuk memaafkan dan dimaafkan. Hal ini sejalan dengan prinsip lima dasar hak asasi manusia, yaitu
The right to life. the right religious freedom, the right to freedom of expretion, the right to property, and the right to have children or offspring.

Dengan memahami secara proporsional serta dapat memahami dengan benar HAM. Yang pada gilirannya dapat diaktualisasikan dalam perilaku positif di dalam sistem kemasyarakatan. Maka, tidak menutup kemungkinan atau bahkan akan menjadi faktor utama berkembangnya peradaban manusia ke depan. (*)

*) Penulis adalah Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Mojokerto

 

         

         

 

 

BERITA LAINNYA