Mengapresiasi Salafi

Oleh: Al-Fakir Wahib Wahab

SEBAGAIMANA dimaklumi bahwa perspektif ilmu kalam (baca; filsafat Islam) dalam menangkap ide tentang Tuhan, alam dan manusia tidak serta merta muncul sebagai sebuah disiplin ilmu.

Kemunculan ilmu kalam dalam bingkai sejarah pemikiran dalam Islam (Islamic though) baru muncul pada paro kedua dari abad kedua hijriyah. Corak pemikiran kalam muncul dengan mengedepankan berbagai persoalan yang terkait dengan mazhab teologis, dan masih terbatas pada lingkungan yang mengitarinya pada waktu tertentu.

Memasuki abad ketiga, ilmu kalam baru menemukan bentuknya sebagai perspektif ilmu  dengan pendekatan dan objek kajiannya yang reasonable (ma’qulat). Karena itu, kelompok kajian agama pada masa awal lebih didasarkan pada persoalan politik (baca; political issues), yakni tarik ulur kepentingan politik yang hegomonik.

Perebutan kekuasaan (Al-Khilafah)  merupakan persoalan yang menggejala, bahkan menjadi wacana ilmu kalam. Karena itu, nyaris menjadi pemicu perpecahan di antara komunitas muslim pada waktu itu.

Tak pelak muncul beberapa aliran dan mazhab dalam kalam, antara lain: Khawarij, Syiah dan Murjiah. Mereka  membangun komunitasnya atas dasar kepentingan politik yang banyak menelan korban karena harus berhadap hadapan dengan aliran dalam Islam yang lain (baca: perang jamal, terbunuhnya khalifah Usman dan Ali R.A). Dan ini dalam realitas sejarah aliran dalam yang terkesan buram karena sekadar berebut kue kekuasaan.

Dari pertikaian politik yang tidak kunjung mencerahkan akal budi, maka lambat laun berubah wacana dan kajiannya pada wilayah pokok-pokok agama (ushuluddin). Akhirnya muncullah beberapa pakar dan ulama kalam yang handal dan teruji (mutakallimun). Aktifitas keilmuan mereka kemudian diikuti oleh kalangan muslim yang lain yang bertujuan untuk mengadakan kajian keilmuan tentang agama (dien), termasuk bagaimana menawarkan problem solving tentang agama (mu’alajah Al-Masyakil Al-Diniyah).

Dari realitas keterseok-seokan komunitas yang konsen dengan keilmuan agama, maka  tiga mazhab besar dalam ilmu kalam, yakni salaf, mu’tazilah dan asya’irah yang kemudian menjadikan fokus kajiannya pada wilayah ke-Tuhanan dengan segala keterkaitannya.

Dengan demikian, bisa kita tarik benang merah bahwa ”ilmu kalam” (corak filsafat Islam adalah merupakan studi kritis terhadap berbagai persoalan (yang mebincang tentang Tuhan, alam dan manusia) yang ada dalam Islam dengan mempertimbangan melalui yang mengitarinya. Tentu saja, salah bila hanya membatasi kajian pada pemikiran yang berseberangan di dunia Islam.

Sebab wacana yang dikembangkan (tataran pemikiran), baik di dunia Timur maupun Barat selalu diakitkan dengan pemikiran kalam dengan berbagai persoalan yang hampir mirip dengan apa yang dikembangkan oleh kalangan agama lain, dan aliran-aliran yang muncul di Timur, atau yang dikembangkan oleh kajian filsafat di Barat (baca; ontology ke-Tuhanan).

Dan kajian serius tersebut berlangsung sampai dari abad ke abad hingga kini masih menarik untuk di angkat kembali sesuai dengan konteks, meski harus di tarik untuk kepentingan pemikiran Islam yang sedang berkembang. Bahkan bila kita gali berbagai referensi ilmu kalam dengan berbagai pengembangan nalar pikirannya, tampak begitu detail dan mendalam.

Bila dicermati dengan seksama, bahwa studi ilmu kalam hingga kini masih banyak diwarnai oleh perspektif ke-Tuhanan Kristiani (al-Lahut al-Masihy) atau filsafat Yunani, terutama terkait dengan dimensi probelatika ontologi ke-Tuhanan. Maka bagi para pengkaji ilmu kalam, niscaya untuk merujuk secara historis tentang perspektif yang dikembangkan dalam studi ilmu kalam dan filsafat Islam.

Siapa Salaf itu?

Yang dikategorikan dengan sebutan ”salaf” adalah mereka yang mendekati Alquran dengan pendepatakan tafsir bil ma’tsur. Kemudian secara periodik mereka mengembangkan pendekatan itu kepada tafsir bir ra’y atau tafsir bi al-Ma’qul (baca; launan wamanhajan fi tafsir: corak dan pendekatan dalam tafsir), atau denagn bahasa ”ta’tsir an-Naql ‘ala al-Aql (pengaruh normatif tafsir kepada rasionalisme dalam tafsir)”.

Mereka itulah yang disebut dengan ”Ahlusssunnah waljamaah”, karena mereka melihat dan berpendapat bahwa apa yang mereka lakukan berdasarkan sumber asal (AlQuran dan sunnah), selain itu, maka dianggap keluar dari batasan salaf.

Kuam muslimin pada pereode awal disebut semuanya dengan ”salaf”, sebab mereka hanya menyandarkan nalar pikir dan aktifitasnya kepada al-Kitab dan al-Sunnah. Mereka beriman kepada Allah, tanpa dikaji dan debat, mereka memahami ayat-ayat AlQuran dengan pemahaman secara global dan general (tafsir mujmal) dari sisi lahiri ayat (eksoteris ayat). Mereka tidak berani menakwilkan  dan mencampuraduk dengan hasil pemikiran manusia. Bahkan mereka selalu menjaga kesucian dan nilai kesakralan ayat AlQuran.

Misalanya dapat kita ceramati pemikiran Rabi’ah (135/752) menyangkut firman Allah (Thaha:5, yang berbunyi:

????????? ???? ????????? ???? ????? ???????? ?????? ?????????? ????????????? ???????????? ????????? ????????? ???????? ???? ??? ?????? ?????? ???? ???????? ?? ?????? ???? ??? ????????? ??????????? ?????????? ???? ?????????? ???????????? ?????????? ???????? ?? ???????? ????????? ????? ? ??????? ???????? ????? ????????? ???????? ???? ??? ?????????? ?????????????? ????????? ???? ?????? ???????? ??? ???: ?????? ???????? ?????? ? ???? ????? ???? ?????? ????? ??????? ??? ???? ????? ?? ?????? ??????: ???? ????? ?? ??????? ??????? ??? ???? ??????? ??????: ??? ???????? ????????? ???????? ???????? ???? ????????? ??????? ????????? ???????? ?????? ????????????? ?????????? ?????? ??????????? ?????? ?????? ???? ??????????? ?????? ????? ??????? ????????
Yaitu, Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy  bersemayam di atas Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya.

Ketika ditanya tentang ”bagiamana bersemayam di atas 'Arsy”, ia menjawab bahwa al-Istiwa’  tidak bisa diketahui, dan menyangkit kaifa  (bagamana gambarannya), ia menjawab ”tidak bisa dinalar oleh akal manusia”. Allah SWT hanya memberikan risalah (tugas kerasulan para rasul), dan mereka hanya menaympaikan (tabligh) dan bagi kita adalah membenarkan (al-Tasdhiq).

Demikian halnya dengan salah satu muridnya (Malik Ibn Anas [178/795] tentang persoalan yang sama, ia menjawab dengan pendeaktan mutasyabihat ayat (baca; metafora), yang mernyerupakan wilayah teosentris ke metamorfosis). Jawabanya persis gurunya yakni al-Istiwa’  tidak bisa diketahui, dan menyangkut kaifa  (bagamana gambarannya), ia menjawab ”tidak bisa dinalar oleh akal manusia”.

Namun mengimani adalah ”wajib”, sebab mempertanyakan yang demikian adalah bid’ah. Pemikiran demikian, sekarang berkembang pesat, sehingga tidak bisa di pungkiri  munculnya sekte-sekte dan pemikiran yang beragam, sehingga membuat pertiakian satu dengan yang lain. Banyak yang mengklaim sebagian aliran salaf, dengan klaim, ia telah berpikir dan berbuat sesuai dengan kehendak al-Kitab dan assunnah.

Padahal jarak mereka begitu jauh dengan genarasi awal. Artinya, model penafsiran sekarang pasti berbeda dengan generasi awal. Ibnu Taimiyah misalnya, dianggap sebagai eksponen abad kedelapan hijriah sebagai tokoh salafi, karena hendak mengembalikan kepada al-kitab dan assunnah.

Tokoh lain adalah hasan al-Bashri (110/729), adalah eksponen abad pertama, dan di antara kaum muslimin dewasa ini banyak mengadopsi pemikiran salafi, atau menjustifikasi sebagai yang palinf salafi. Dalam bingkai salafi, dapat diedentifikasi nama-nama tokoh antara lain: Abdullah Ibn Abbas (68/688), Abdullah Ibn Umar (74/694). Umar Ibn Abdul Aziz (101/720), al-Zuhry (124/742). Ja’far as-Shodiq (148/765). Mereka komitmen dengan kajian keilmuan diniyah (ilmu-ilmu agama).

Akan tetapi mereka selalu bersahabat dengan tasyri’ al-Islami, hadis, tafsir. Termasuk juga para imam mazhab yang empat, yang patut di kelompokan sebagai aliran salaf. Bahkan mereka juga mempunyai karya peninggalan yang bisa dikaji ulang oleh generasi keinian dan kedisinian. Baik menyangkut pemikiran dan tataran ilmu kalam yang sarat dengan pemikiran yang serius.

Abu Hanifah misalnya (150/767) yang terkenal ahlu ra’y/rasional dan menggunakan pendekatan maslahah mursalah. Ia adalah pembela teologi Maturidiyah yang sering mengemukakan pendapatnya berdasarkan kemaslahan. Sedangkan tiga yang lainnya tidak suka dengan kajian ilmu kalam (karena mereka terkenal sebagai mujtahid dalam fikih [fuqoha]. Karena itu, dalam beberapa karyanya, mereka bertiga cenderung menghindari kesibukan dalam wacana kalam.

Namun dalam karyanya ”Risalah fi al-Radd ala al-Qodariah” ia menolak perdebatan kalam yang terwakili oleh teologi qodariyah (berarti juga membincang tentang wacana kalam).

Bahkan al-Imam al-Syafi’i (204/820) –sebagai yang diikuti oleh kebanyakan kaum sunni—juga mempunyai pemikiran tentang musykilat Uluhiyah (problema ke-Tuhanan), Ibnu Hanbal (241/855) juga mempunyai karya ”risalah fi al-Radd ‘ala al-Jahmiyah”. Ia mengulang-ulang kajian dengan menyandarkan pendapat kaum salaf, bahkan para pengikutnya selalu mengikuti pendapatnya, meskipun ia tidak mengemukakannya secara langsung.

Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa mereka (para Imam Mazhab) adalah fuqoha’ dan yang konsentrasi kepada kepentingan syari’ah. Sebelumnya mereka menempuh cara jadali  yang dikembangkan oleh para mutakallim (ulama kalam). (*/bersambung).

 

BERITA LAINNYA