Konsen Pendidikan dan Pemberdayaan, Bangun Jaringan Ekonomi

USAI merampungkan tugas sebagai Wakil Bupati Mojokerto periode 2010-2015, Hj Choirun Nisa mengaku harus tetap bangkit kembali melanjutkan perjuangan dan berbagi ilmu.

baca: Lebih Baik di Belakang tapi Selalu Berperan

Meski untuk sementara bukan di jalan yang sama seperti sebelumnya, kini dia memilih tetap berkarya dan mengabdikan diri kepada masyarakat, khususnya di dunia pendidikan dan pesantren. ”Lebih banyak berdiskusi dan instropeksi diri,” ujar perempuan kelahiran Jombang, 10 November 1950 ini.

Ditemui di kediamannya, Perum Griya Japan Asri, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Nisa memang selalu menonjolkan sosok perempuan yang tegar. Ditemui di ruang tamu rumahnya, Nisa yang mengenakan busana muslim dan jilbab warna soft pink ini selalu semringah.

Karakter keibuan yang dikenal santun dan ramah rupanya masih melekat di benak Nisa. Tampak dari gesture dan tutur bahasanya saat menerima tamu yang kebetulan berkunjung di kediamannya.

”Karena kita dilahirkan dari dunia pesantren Insya Allah kami sekeluarga  tetap melanjutkan perjuangan orang tua dan keluarga,” tutur ibu dari Miratul Khusna Mufida, M. Zaimul Akhrorur Rizqy dan Ezza Gheyats Muttaqy ini.

Nisa menuturkan, setelah tidak lagi berkarir di dunia politik, bersama suaminya KH Syihabul Irfan Arief (Gus Fan) akan tetap mengamalkan ilmunya. Apalagi, belakangan Gus Fan adalah salah satu dewan pengasuh sekaligus penerus keluarga Pondok Pesantren Roudlatun Nasyiin, Desa Berat Kulon, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. 

Semisal aktif mengajar santri, anak didik sekolah serta melanjutkan profesi sebagai dosen di Perguruan Tinggi (PT). ”Tentu, mengajar di PT dan aktif di yayasan pesantren. Kebetulan dulu saya juga mengajar di beberapa PT. "Di mana saja,” terangnya.

”Pesantren dan dunia pendidikan itu kan harus dirawat dan dijaga, apalagi ini warisan mertua,” tambahnya. Dia menceritakan, ada banyak manfaat yang harus dipetik dari pengalamannya selama berkarir di dunia birokrasi dan politik.

”Alhmadullilah sekarang kami banyak mendapat link (jaringan) di tingkat pusat (Jakarta),” ungkapnya. Jaringan terbaru itu, kata Nisa, bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat sampai founding ekonomi. ”Terjun di dunia pemberdaayaan masyarakat,” paparnya.

Namun, aktivitas ini tidak diwujudkan dalam bentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), melainkan lebih pada pendampingan program pemberdayaan masyarakat. Di antaranya, mendalami bidang skill Usaha Kecil Mikro Menangah (UMKM), teknik pendidikan, kesehatan sampai pemasaran hasil kreasi usaha masyarakat.

Salah satunya mengembangkan ilmu pemasaran (market). Meliputi hasil kerajinan rajut taplak, meja, tas, dompet, vas bunga berbahan olahan. ”Bagaimana kehidupan ini bisa bermanfaat bagi orang lain. Yang penting mengajak masyarakat lebih berdaya guna,” tandas Nisa sembari menunjukkan sebuah tas rajut berbahan kain olahan konveksi.

”Ini mengambilnya dari Malang. Selanjutnya dipasarkan ke Bali,” imbuhnya. Bagaimana dengan kiprah di dunia politik? Perempuan pernah mengajar di beberapa sekolah negeri Kota Mojokerto ini mengaku sementara akan melepas.

Termasuk memutuskan berhenti dari jabatan struktural di dunia politik. ”Belum memikirkan ke arah sana (politik). Ingin lebih fokus pemberdayaan masyarakat saja dan mengajar,” pungkas Nisa. (aka/NU Mojokerto)

 

BERITA LAINNYA