Lebih Baik di Belakang tapi Selalu Berperan

Belajar dengan banyak orang…

ITULAH sepenggal kalimat bermakna yang melekat dalam hati Indriyati Adawiyah. Belakangan, perempuan yang kini memegang amanah sebagai kepala sekolah (kasek) SMP/SMA Manbaul Quran, Kota Mojokerto itu memang jarang muncul di permukaan.

Baik di berbagai kegiatan keorganisasian NU maupun di dunia aktivis perempuan. Dilahirkan dari keluarga bernapaskan Nahdlatul Ulama (NU), putri ke 7 dari 11 bersaudara pasangan H. Mochsun Sudjono dan Nur Afida asal Jember tersebut rupanya lebih memilih berada di barisan belakang.

Lebih menikmati kelembagaan kultural ketimbang duduk di barisan depan atau memegang predikat sebagai pengurus harian dan struktural. ”Prinsip yang diberikan orang tua saya dari dulu seperti itu. Lebih baik di belakang tapi terus berperan,” ungkap Indri sapaan Indriyati Adawiyah, ditemui di kediamannya di Lingkungan Kranggan Permai No 6, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.

Pernyataan ibu tiga anak itu sepertinya sudah tertanam sejak memutuskan tinggal di Kota Mojokerto, mengikuti sang suami Mahmud Tontowi. Mahmud adalah Direktur Utama (Dirut) PT Motasa Indonesia di Mojosari. ”Syukur Alhamdulillah setelah belajar, sekarang saya justru mengenal banyak orang di sini (Mojokerto, Red). Terutama dari kalangan nahdliyin,” terangnya.

Indri remaja pernah aktif di berbagai organisasi kepemudaaan dan mahasiswa Islam, di antaranya PMII dan IPPNU. Sehingga, tidak heran mulanya dia merasa asing saat tinggal di Mojokerto sejak tahun 1994 silam. Selain jauh dari saudara, saat itu belum satupun masyarakat yang mengenal sosok dan kiprahnya.

Perjalan karir perempuan kelahiran 20 Agustus 1971 di Kota Onde-Onde ini memang memiliki banyak perbedaan dari perempuan pada umumnya. Alumnus sarjana Strata Satu (S-1) Unversitas Negeri Jember (UNEJ) itu sempat meninggalkan dunia organisasi. Persisnya setelah mengikuti ke manapun sang suami ditugaskan oleh perusahaan di tempatnya bekerja.

Namun, tidak lama setelah menetap di Mojokerto semangatnya untuk menekuni keorganisasian NU mulai bangkit kembali. Seiring di balik perkenalannya dengan beberapa orang secara tidak disangka. Seperti, tokoh Muhammadiyah sekaligus akademisi, Pitoyo Kusumo, dan KH Maksum Maulani, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Azhar (mantan Ketua Tanfidz DPC PKB Kota Mojokerto).

Dari situlah, kemudian Indri menerima tawaran baru, sebagai dosen Fakultas Hukum Mayjend Sungkono. Dia juga sempat bekiprah dalam dunia politik lewat PKB. ”Saya anggap itu sebagai pintu masuk menjalani aktivitas di Mojokerto. Di dunia pendidikan maupun keorganisasian,” ujarnya. ”Setelah saya mengenal banyak orang, ternyata mereka memiliki kesamaan visi-misi” kenangnya.

Atas kemampuan yang disandang ini, karirnya pun perlahan mulai menanjak. Dia pernah menjabat sebagai Kasek SMA Al Multazam, Desa Kepuhanyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Serta, duduk sebagai Wakil Sekretaris PC Muslimat dan Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan MUI, Kota Mojokerto.

Selain itu, dia memutuskan aktif di pusat Study Wanita Mayjend Sungkono dan P-PKB, sebagai wakil ketua II. Bahkan, seiring bergulirnya reformasi, Indri yang sebelumnya bersihkukuh tidak akan menggunakan hak politiknya, merasa sepaham atas komunitas barunya itu. ”Dulunya saya selalu golput (golongan putih, Red). Tapi semenjak pernah bergabung di PKB saya merasa hak politik NU harus diperjuangkan. Apalagi sebelumnya gerakan NU seperti dibatasi oleh situasi,” terang alumnus Pascasarjana Unesa Surabaya tahun 2008 ini. 

Nah, seiring meninggalkan dunia politik, Indri kemudian disibukkan dengan berbagai kegiatan dan aktivitas organisasi perempuan. Di antaranya, Fatayat, Muslimat, MUI, KPPI dan WCC Bina Anisa, Kota Mojokerto. ”Sebagai pertimbangan, kegiatan mengajar di kampus dan sekolah tetap saja jalani. Selain organiasasi, pendidikan di kampus bisa menambah pengetahuan dan pengalaman,” ungkapnya. ”Apalagi dibanding saat menyandang mahasiswa dulu. Bagi saya berorganisasi itu ibarat kampus kedua. Begitu mendapat ilmu langsung diaplikasikan (dipraktikkan, Red),” bebernya sembari tersenyum.

Indri menjelaskan, keputusan pernah bergabung organisasi ke-NU-an secara prinsip bukanlah semata-mata menghindari rasa khawatir tidak mengenal orang. Walau sebagai keluarga perantau, tekad bulatnya berorganisasi lebih didasari sebagai ajang aktualisasi diri. ”Merasa lebih dinamis. Bisa bersosialisasi, belajar, bersosial hingga beraktualisasi,” tambah perempuan yang pernah menaruh cita-cita sebagai notaris ini.

Kini, dia merasa bersyukur setelah apa yang dijalani dapat memberi manfaat bagi semua kalangan. Terutama, kala berinteraksi dan berbaur bersama warga nahdliyin Mojokerto. Menurutnya, hal itu bukan sebatas mendapat pengetahuan dan tempat beraktualisasi, tetapi lebih dari itu. Indri yang menaruh harapan dapat melanjutkan jenjang pendidikan hingga S-3 ini lantas kian mempertajam hasratnya belajar, dan memperjuangkan keilmuan ahlusunnah waljamaah (aswaja). Sebagaimana yang telah diwariskan orang tua dan keluarganya.

Baik ketika menjalankan amanah sebagai kepala sekolah atau bersosialisasi dengan sesama nahdliyin. ”Bagi saya, ilmu kehidupan sangatlah penting. Paling tidak, saat wafat nanti ada orang yang mengubur dan mendoakan,” katanya sembari menjawab kekhawatiran hidup sebagai keluarga pendatang.     

Kendati demikian, dia tetap sadar diri atas keadaan dan amanah yang dijalani sebagai Kasek SMP/SMA di lingkungan Ponpes Manbaul Quran, di bawah naungan pengasuh KH Abdul Hafidh Muslih. Karena, dia meyakini kemampuan dan kapasitasnya tidak selamanya mewarnai aktivitas keorganisasian atau pendidikan. Terutama, jika sedang berhadapan dengan keluarga. Berkewajiban menjalankan tugas sebagai istri dan ibu bagi ketiga anaknya. Yakni, Moch Mirza Ilham Tontowi,  Moch Mifta El-Azmi Mauladi Tontowi, dan Fairuz Izdihar Haedar Tontowi.

”Selagi mampu, saya akan belajar terus sampai kapanpun. Meski berada di barisan belakang. Termasuk sekadar mengabdikan diri di dunia pendidikan,” imbuhnya. (aka/NU Mojokerto)

 

BERITA LAINNYA