Khittah Mbah Achyat Chalimy, Pemikiran Melampaui Zaman

Oleh: Ayuhanafiq

ACHYAT CHALIMY dengan mantab maju ke podium tempat peserta menyampaikan pendapat. Tidak ada yang menyangka pada saat itu bila Ketua Tanfidziyah NU Mojokerto itu mengeluarkan pendapat di luar perkiraan. Pendapat tersebut kemudian menjadi mainstream NU 30 tahun kemudian.

Muktamar NU ke 22 digelar di Jakarta pada bulan Desember 1959. Muktamar tentu berjalan meriah karena secara politis NU sedang menikmati panen besar. Memenangi pemilu 1955 dengan mematahkan pandangan nyinyir para tokoh Masyumi yang menganggap orang NU pantasnya jadi tukang doa, bukan mengurus negara. Kemenangan yang kemudian mendudukan beberapa politisi NU pada jabatan politik.

Peserta muktamar dari Mojokerto hadir dipimpin oleh Kiai Achyat Chalimy. Usianya masih muda dan luar biasa karena mampu membawa NU Mojokerto menang di pemilu yang baru lalu. Kemenangan luar biasa dan diluar prediksi banyak pihak.

Mojokerto adalah kawasan Mataraman yang haluan politiknya lekat ke abangan. Kenyataannya NU bisa menyalip perolehan suara PNI yang menjadi partai pemerintah saat itu. Kemenangan yang tidak bisa dibuat oleh NU Jombang sekalipun. Dalam kontestasi pemilu 1955 hanya Mojokerto yang hijau di antara merahnya Mataraman.

Pada saat mendapat kesempatan berbicara dihadapan muktamirin, Achyat menyarankan agar NU keluar dari dunia politik. NU harus kembali mengurus kegiatan sosial keagamaan yang mulai terbengkalai. Semua sumber daya yang dimiliki organisasi terserap seluruhnya dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Pada sisi lain, jutaan umat nahdliyin semakin jarang dirumat.

Tentu pendapat itu tidak mendapat sambutan dan bahkan ditolak oleh Kiai Idham Chalid, pemimpin sidang muktamar. Pendapat Achyat Chalimy seolah teriakan di gurun pasir. Tidak ada yang tahu mengapa pendapat semacam itu mengemuka. Namun jika dilihat dari pengalaman politiknya, Achyat mengalami trauma politik saat di Jakarta.

Dalam keanggotaan Dewan Konstituante tercantum namanya sebagai wakil Partai NU. Dewan Konstituante itu mengalami deadlock ketika mencoba mengambil keputusan tentang dasar negara. Lembaga itu kemudian dibubarkan lewat dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959.

Pertarungan politik demi memenangkan posisi di mata Achyat sudah tidak lagi mengedepankan etika. Nada keras untuk menyerang lawan tidak jarang menghalalkan segala cara. Dan batin Achyat tidak bisa menerima situasi semacam itu. Achyat pun pulang ke Mojokerto meninggalkan tugasnya di Jakarta. Dia pulang untuk mulai mengajar di musala peninggalan Kiai Chalimy, orang tuanya. Dari aktivitas muruk ngaji di musala itu mulai dibenahi kegiatan sosial NU Mojokerto.

Saran Kiai Achyat memang tidak mendapat sambutan pada waktu itu. Namun sejarah membuktikan bahwa apa yang ditunjukkan adalah jalan terbaik bagi NU. Tahun 1984 beberapa tokoh muda NU seperti Abdurrahman Wahid, Fahmi Syaifuddin dan lainnya mendorong agar NU keluar dari dunia politik. Pemikiran anak muda yang disokong oleh tokoh kharismatik, Kiai Achmad Shiddiq. Usulan yang dikenal sebagai Khittah NU. Dalam Muktamar Jakarta 1959, pemikiran Achyat Chalimy melampaui zamannya, pemikiran yang jauh ke depan. (*)

*)Penulis adalah Ketua KPU Kabupaten Mojokerto dan sejarawan

 

BERITA LAINNYA