Sikap Kita, Cerminan Masalah atau Bahagia Kita

Oleh: Sa’dulloh Syarofi

Sampean Punya Masalah?

Pertanyaan klise, karena jawabannya mudah: YA. Atau sekalian saja jadikan ekstrem: kita semua (pasti) bermasalah. Besar kecilnya relatif, tapi bisa dipastikan tidak ada satu pun manusia yang tidak punya masalah. Sedikit-banyaknya juga relatif, tergantung seberapa sensitif daya nalarnya mampu menerima.

Intinya, manusia dekat dan bersentuhan dengan masalah adalah keniscayaan. Semampu apa pun seseorang ‘menjauhi’ masalah, dia akan tetap terkejar jua. Lari dari masalah adalah hal konyol, karena masalah adalah bayangan hakiki manusia. Teorinya, semakin dekat seseorang kepada cahaya, semakin panjanglah bayangannya. Konon, itu kiasan dari semakin dekat seseorang kepada jati dirinya sebagai makhluk, semakin banyak masalah yang disiapkan Tuhan baginya. Hingga pada saatnya seseorang berada tepat di bawah naungan cahaya, baru bayangan itu seperti tak bersisa. Tapi saya  tidak berniat membahas itu, karena itu maqam-nya para Arifin, duta cahaya, serta para mutaqarribin. Cukup yang receh-receh saja, awwamiin, para perambah gelap, atau mentok di aabidiin, para pemilik remang-remang, yang bagi mereka, masalah adalah ‘masalah’, hal serius dan diseriusi, karenanya sering terbawa menjadi kompas kehidupan, yang kadang mengarahkan ke solusi, atau kebanyakan justru semakin menjerumuskan.

Ya sudahlah, sekali lagi, intinya di sini, adanya masalah adalah suatu keniscayaan. Jadi yang kemudian bisa direkayasa—kalaupun bisa—bukanada tidaknya, tapi kuantitasnya:sedikit atau banyaknya bagi fisik kita, dan (yang lebih penting lagi) kualitasnya: besar atau kecilnya nilai masalah itu bagi pikiran kita.

***

Masalah—silakan Anda menyebut dengan istilah kesukaan masing-masing—muncul dari 2 sisi yang beriringan: jika bukan diberikan Tuhan untuk menaikkan derajat, maka pasti digunakan sebagai penebus hal-hal yang menyebabkan turunnya derajat (seorang hamba). Namun jika alasannya di luar dua ini, pasti mengandung unsur gawat, karena didalamnya bisa dipastikan terselip murka-Nya.Nilai gawatnya membuat kondisi ini yang selalu kita panjatkan sebagai doa setiap kali sehabis witir agar tidak sampai terjadi pada kita. Na’uudzubi-Ka min sakhati-Ka

Sejak awal, masalah memang diciptakan sebagai penyeimbang proporsi kebahagiaan. Semakin sedikit masalah seseorang—entah yang berkurang itu wujudnya secara fisik (physical) atau wujudnya dalam pikiran kita (mental), maka indeks kebahagiaannya akan semakin membesar. Begitu juga sebaliknya.Dus, kebahagiaan juga bisa ‘dikejar’ dengan 2 cara: fokus pada standar kebahagiaan itu, atau fokus pada eliminasi masalah-masalah yang menghambatnya. Artinya, jika kita tidak bisa melengkapi materi-materi penumbuh kebahagiaan, maka setidaknya kita bisa meminimalisir ‘rasa’ dari masalah-masalah itu di pikiran kita, walaupun secara fisiknya tidak berkurang.

Jika ditarik benang merah dari 2 kesimpulan di atas, ada satu kesimpulan lain yang spektakuler. Di mana pun ada kebahagiaan tumbuh, maka tumbuh juga sumber masalah. Hebatnya, itu juga berarti di mana pun ada masalah, di situ juga tumbuh sumber kebahagiaan. Seperti 2 sisi mata uang yang saling melengkapi, seperti kita dan bayangan kita. Tinggal kita saja yang memilih hidup di persepsi anti-mainstreamyang mana: sebagai orang (yang seharusnya) bahagia tapi sibuk dengan masalah, atau sebagai orang (yang sebenarnya) bermasalah tapi sibuk dengan kebahagiaan. Keren kan?

***

Tentang masalah dan bahagia ini, Rasulullah SAW bahkan seringkali dengan tegas menunjukkan keterkaitannya yang erat. Secara gamblang, Beliau SAW menunjukkan betapa bertambahnya porsi salah satu akan mengurangi porsi yang lainnya.Tapi ada satu dawuh Beliau SAW yang ringkas tapi menjabarkan keduanya hingga ke titik sebab dan akibat, sebab kau membuat masalah maka akibatnya bahagiamu berkurang.

Jika sampean sempat membuka dan membaca Nashaihul Ibadyang keren itu, salah satu kitab masterpiece karya Syaikh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al-Jawi (atau Imam Nawawi saja), yang bahkan sudah ada terjemahnya berbahasa Indonesia, di dalamnya ada dawuh itu.

Begini. Rasulullah SAW pernah dawuh: manahaanakhamsatan, khasirakhamsatan. Siapa saja yang menghina (melecehkan, dalam arti luas) lima (golongan), (dia) merugi lima (perkara). “Ahaana” adalah sikap, yang menjadi pangkal dari segala masalah. 5 jenis sikap menghina, adalah awal dari merosotnya 5 jenis kebahagiaan. Menariknya, penghinaan yang dimaksud di sini bukan tentang aspek yang terkait hablun min Allah, tetapi justru hablun min an-naas. Logikanya, pertama,jika dimensi dari segala ibadah hamba kepada Tuhannya adalah kebahagiaan dunia-akhirat, maka jelas sudah, sikap hamba terhadap lingkungannya lah yang menyebabkan ibadah jadi ‘membahagiakan’.Kedua, sesempurna apapun teknik spiritual kita, jika tidak diimbangi dengan teknik sosial yang mumpuni, sama saja kita seperti belum beribadah kepada-Nya sama sekali. Di sini kentara sekali bahwa kesempurnaan hablun min Allah terikat dengan kesempurnaan hablun min an-naas. Keren lagi kan?

Pertama dari lima: manistakhaffabil’ulamaa’ khasirad’diin. Siapapun yang meremehkan ulama, merugi (urusan) agama. Ini adalah dasar. Kehormatan ulama menjadi taruhan diakuinya agama kita atau tidak oleh Allah SWT. Dipakainya kata ‘istakhaffa’ yang sebenarnya adalah partikel terkecil dari ‘ahaana’ menunjukkan bahwa betapa Rasulullah SAW tidak main-main dalam mengingatkan kita untuk tidak ‘ahaana’, walau sekedar ‘istakhaffa’ sekalipun. Jika meremehkan ulama saja kita dirugikan Allah SWT dari sisi agama, apa jadinya Iman dan Islam kita jika kita sampai melecehkan, mencaci, menghujat, apalagi sampai hati memfitnah mereka, para ulama, penjaga benteng keilmuan Islam sepanjang zaman. Nah kan. Dulu, bahkan sekaliber imam mujtahid yang ilmunya luas itu, sangat berhati-hati ketika memberi tanggapan tentang ulama lain—yang lebih muda sekalipun. Mereka kebanyakan mengedepankan pujian, ketimbang mengkritisi secara mendalam. Ta’dzim dan tawadlu’ didahulukan, karena mereka sangat memahami, dimensi kebahagiaan hakiki dipertaruhkan di sini. Mengabaikan satu hal ini, maka maknanya kita siap hanya tinggal dunia yang bisa kita jadikan alasan bahagia. Tapi jangan keburu lega dulu, empat yang lain justru tentang dunia itu.

Kedua dari lima: manistakhaffabil’umaraa’ khasirad’dun-yaa. Siapapun yang meremehkan umara, merugi (urusan) dunia. Rasulullah SAW, dalam beberapa dawuh-nya, menunjukkan ketidaksukaannya dengan sikap makar terhadap pemimpin, bahkan yang kurang memenuhi syarat sekalipun. Harmoni antara pimpinan dan yang dipimpin menjadi prasyarat bagi munculnya keteraturan sosial kemasyarakatan. Sehebat apapunseorang pemimpin, jika rakyatnya tukang nyinyir, habislah. Saat harmoni pemimpin-rakyat pupus, maka keteraturan sosial tidak lagi menjadi bagian rahmat Allah SWT. Belakangan ini, Sampean bisa melihat itu di banyak belahan bumi, takutnya, termasuk yang kita pijak ini. Intinya, runtuhnya harmoni dalam suatu masyarakat, tidak melulu karena pemimpin yang kurang cakap, tapi bisa jadi (lebih sering) karena rakyat yang terlalu banyak cakap.

Ketiga dari lima: manistakhaffabil’jieraan, khasiral’manafi’. Siapapun yang meremehkan tetangga, merugi kemanfaatan (dari rezeki). Tetangga, merupakan kata yang merepresentasikan semua orang yang ada di sekitar kita selain keluarga. Sikap kita terhadap mereka, merupakan kunci ada tidaknya manfaat dalam segala hal yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita sebagai rezeki. Lalu apalah arti pemberian itu, bahkan jika sampai bergelimang, jika tak banyak bisa dimanfaatkan. Alih-alih sebagai rahmat—karena tak ada manfaat, apa lagi namanya yang tepat selain laknat, karena harta yang tak bermanfaat, adalah wujud lain bara akhirat. Memicunya pun mudah, cukup dengan nyinyir kepada siapapun, pilih saja dari sekian banyak orang di sekitar kita. Semakin berhasil kita melihat keburukan orang lain, semakin mudah Tuhan melenyapkan kemanfaatan-kemanfaatan itu, entah dengan penyakit, hama, biang, atau alat penghancur kemanfaatan lain milik Tuhan. Coba saja jika tidak percaya, ada banyak contoh yang bisa ditiru kehancurannya.

Keempat dari lima: manistakhaffabil’aqribaa’, khasiral’mawaddah. Siapapun yang meremehkan sanak saudara, merugi kasih sayang. Sampean ingin dijauhi? Dibenci? Kehilangan empati dan simpati dari semua orang? Mudah sekali caranya, lecehkan saja (kehormatan) sanak saudara sampean. Tidak perlu sampai bertengkar, cukup rendahkan saja martabat sanak itu di hati sampean, anggap mereka penghuni dunia yang tidak penting. Allah SWT akan dengan senang hati mem-bullysampean dengan munculnya kebencian-kebencian (paling tidak negativethinking) untuk sampeanyang entah dari mana datangnya dan oleh sebab kejadian apa. Sebenarnya sangat mudah bagi Tuhan untuk menciptakan skenario yang keren, tapi untuk yang ini tidak perlu, sikap meremehkan sampean itu sudah lebih dari cukup dijadikan alasan pem-bully-an. Tapi sebelum mencoba, ada baiknya membayangkan dulu, di-bully sesama manusia saja efek dan dongkolnya bisa tujuh turunan, bagaimana kalo Tuhan sendiri yang mbully? Pasti keren (kalau difilemkan).

Terakhir dari lima: manistakhaffabi ‘ahli bayti-hi, khasirathiibal’ma’isyah. Siapapun yang meremehkan anggota keluarganya (sendiri), merugi kemudahan (hidup) sehari-hari. Pernah mengalami di mana seharian setiap aktivitas yang kita lakukan selalu saja terselip aral yang menjengkelkan? Jika pernah, selamat, sampean bisa jadi menjadi bukti dawuh ini. Kadang kita tiba-tiba bertanya-tanya gemas, saat rencana yang rapi bubrah berantakan gara-gara munculnya perusak tak terduga, “ada apa gerangan?” jawabannya bisa jadi sepele dan bikin geleng-geleng: rumah. Apa yang terjadi di rumah bisa berimbas pada aktivitas kita seharian. Meremehkan fungsi dan besarnya nilai anak-istri, atau bahkan orangtua, adalah alasan Tuhan untuk memenuhi hidup sehari-hari kita dengan aral dan gangguan. Selagi kehormatan mereka lemah di hadapan kita, maka lancar dan mulus adalah hal yang mahal. Remehkan saja mereka, bully kalau perlu, maka hal-hal remeh seperti gagal tenggat, barang tak sesuai pesanan, kiriman terhambat, listrik padam, mobil mogok, dan segala jenis aral lainnya akan setia menemani kita,kapanpun, dimanapun, 24 jam 7 hari seminggu.Lima rangkaian di atas, adalah contoh komplit relasi antara masalah dan kebahagiaan. Tinggal kita saja yang memilih porsi dan racikannya.

Semoga Allah SWT selalu menaungi kita dengan rahmat-Nya. a

*)Penulis adalah Pengasuh Ponpes Salafiah Al Misbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto

 

BERITA LAINNYA