Dokar Kiai Nawawi

Pada awal pembentukan jam'iyah Nahdlatul Ulama di Mojokerto, peran KH Nawawi sangat besar. Tokoh dengan perawakan kecil itu memiliki mobilitas tinggi dalam mengunjungi pengurus di tingkat desa. Kedatangan beliau sudah dapat diketahui sebelumnya karena suara dokar yang dikendarai.

NU Mojokerto berdiri sekitar tahun 1928, dua tahun setelah NU didirikan oleh Mbah Hasyim dan para kiai lainnya. Pembentukannya digawangi oleh para alumni ponpes Tebuireng yang ada di Mojokerto. Hal itu wajar karena pesantren Tebuireng merupakan pesantren besar yang menjadi tujuan belajar para santri dari Mojokerto. Salah satunya adalah KH Nawawi.

Dalam struktur NU Mojokerto, KH Nawawi asal Lespadangan Kecamtan Gedeg, ditunjuk sebagai Wakil Rois Syuriah. Rois Syuriah NU pertama Mojokerto dijabat KH Zainal Alim asal Suronatan, Kecamatan Magersari Kota Mojokerto. Tugas Kiai Nawawi sendiri mirip dengan peran KH Wahab Hasbullah, yani sebagai konsolidator. Sementara KH Zainal Alim sebagai simbol organisasi. Oleh karena perannya ini, Kiai Nawawi menjadi sosok yang dikenal oleh pengurus sampai tingkat paling bawah yang dinamakan Kring, pengurus tingkat desa.

Kebiasaan Kiai Nawawi mengunjungi pengurus dan anggota NU membawa ciri tersendiri. Tanda kedatangannya adalah suara dokar dengan gemerincing klintingan yang terpasang pada kuda dan dokar. Suara itu sudah terdengar dari jarak yang cukup jauh. Hal ini mungkin dikarenakan jumlah klintingan yang terdapat pada dokar Kiai Nawawi lebih banyak dari dokar pada umumnya.

Kehadiran pimpinan organisasi pada anggotanya tentu menjadi kebanggaan tersendiri buat tuan rumah. Sifat egaliter yang dimiliki ulama yang berprofesi sebagai tukang jahit pakaian itulah yang membuat NU Mojokerto cepat berkembang.

Untuk diketahui bahwa menjadi anggota NU pada masa itu memiliki syarat ketat. Seorang yang menjadi anggota harus mendaftar dan membayar iuran. Setelah mendaftar statusnya baru sebagai calon anggota saja, tidak langsung menerima kartu anggota. Jika pada masa sebagai calon anggota ternyata dia memiliki perilaku yang kurang baik maka dia akan ditolak. Sebaliknya jika lulus dengan perilaku baik menurut ukuran NU, baru disahkan dengan baiat dan menerima kartu anggota NU. (jo/ara)

BERITA LAINNYA