Hikmah Kesalehan Sosial

Oleh: Sa’dulloh Syarofi

PERNAH suatu kali, Abdullohi bin Mubarak RA bertanya kepada salah seorang ulama, Khalid bin Ma’dan RA tentang amal yang diterima oleh Allah SWT. Dalam jawabannya, beliau mengutip percakapannya dengan salah satu sahabat Rasulullah SAW, Muadz bin Jabal RA Khalid—seperti halnya Ibnu Mubarak—juga menanyakan tentang petuah Rasulullah SAW mengenai amal yang sampai kepada Alloh SWT kepada sahabat Muadz bin Jabal RA.

Muadz bin Jabal RA justru berkaca-kaca kedua matanya lalu menceritakan pengalaman beliau bersama Nabi Muhammad SAW. Suatu hari, Rasulullah SAW sedang bepergian menaiki unta berpunuk dua. Saat berpapasan dengan Muadz bin Jabal, Rasulullah SAW langsung memintanya naik keunta tunggangannya dan menemaninya dalam perjalanan.

Bagi Muadzra, bersama Nabi Muhammad SAW adalah saat-saat yang tidak pernah disia-siakan untuk menimba ilmu, sehingga segera saja dia mengutarakan uneg-unegnya kepada Nabi Muhammad SAW. ”Ya Rasulullah, mohon beritahu saya tentang sesuatu yang keras bagi nalar dan hati saya, tetapi juga lembut dan menentramkan,” pinta Muadz bin Jabal RA.

Alih-alih menjawab secara langsung, Rasulullah SAW justru tersenyum, dan kemudian bercerita. Dahulu, sebelum alam semesta tercipta, Allah SWT lebih dulu menciptakan malaikat-malaikat. Dari sekian banyak malaikat itu, tujuh di antaranya akhirnya menjadi penjaga lapisan langit dan 7 yang lain menjadi penjaga lapisan bumi.

Masing-masing malaikat penjaga itu mempunyai tugas khusus dari Allah SWT untuk menyeleksi amal-amal perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Mereka menyortir—menahan amal yang dalam tahap tertentu dianggap kotor, dan membiarkan lewat sisanya. Saat kemudian alam semesta dan manusia diciptakan, malaikat Hafadzahra—para kurir amal manusia—mulai membawa amal-amal manusiakelangit, dengan tujuan untuk disampaikan kehadirat Allah SWT. Amal yang dibawa itu berpendar—redup terang—seperti bintang kejora.

Sesampainya di pintulangitpertama, ternyata sebagian amal itu ditahan dan tidak diizinkan lewat. Saat malaikat pembawa amal mempertanyakan kenapa, malaikat penjaga langit pertama dengan tegas menjawab:  ”Kembalikan amal ini, timpukkan kepelakunya. Aku diutus oleh Allah SWT untuk menolak dan menahan amal yang pelakunya masih suka menggunjing—mencaci dan menyebarkan keburukan sesamanya,”.

Dan ditinggalkanlah amal-amal yang dikotori ghibah itu di langit pertama. Malaikat pembawa amal membawa sisanya menuju pintu langit yang kedua. Kembali beberapa amal ditahan dan tidak diizinkan lewat. Saat malaikat pembawa amal mempertanyakan, malaikat penjaga langit kedua menjawab: ”Buang saja amal-amal ini, timpukkan pemiliknya. Aku diutus oleh Allah SWT untuk menahan dan menolak amal-amal yang pelakunya suka pamer—menampak-nampakkan kelebihannya di hadapan sesama,”

Dan ditinggalkanlah amal-amal yang dikotori fakhr itu di langit kedua. Malaikat pembawa amal membawa sisanya menuju langit yang ketiga. Seperti sebelumnya, kembali beberapa amal tertahan di pintu langit yang ketiga. Saat malaikat pembawa amal kembali mempertanyakan, malaikat penjaga langit ketiga menjawab: ”Kembalikan amal-amal ini, timpukkan kepelakunya. Aku diutus oleh Allah SWT untuk menahan dan menolak amal-amal yang dilakukan oleh orang sombong—merasa paling baik sehingga meremehkan sesamanya,”.

Dan dicampakkanlah amal-amal yang dilumuri kibr di langit ketiga. Malaikat pembawa amal membawa sisanya menujulangit ke-empat. Kembali seperti sebelumnya, beberapa amal tertahan. Malaikat pembawa amal mencoba mempertanyakan, namun dengan tegas dijawab malaikat penjaga langit ke-empat:

”Kembalikan amal ini, timpukkan kepelakunya. Aku diutus oleh Allah SWT untuk menahan dan menolak amal-amal yang pelakunya suka ujub—memuja tinggi dirinya sendiri dan menganggap kecil peran dan jasa sesamanya,” Di langit yang ke-empat, amal-amal yang dilumuri ujub dicampakkan. Malaikat pembawa amal membawa sisanya kelangit yang kelima. Ternyata beberapa amal masih juga tertahan. Ketika dipertanyakan lagi, malaikat penjaga langit kelima menjawab hampir serupa: ”Kembalikan amal ini, timpukkan kepelakunya. Aku diutus Allah SWT untuk menahan dan menolak amal-amal yang pelakunya dipenuhi kedengkian—menganggap dirinya pantas mendapat rizki sampai-sampai menginginkan hilangnya rizki milik sesamanya,”.

Di langit yang kelima, hasud membuat amal-amal bagus diabaikan. Sisanya dihantarkan malaikat pembawa amal menuju langit ke-enam. Ternyata yang tinggal sedikit itu pun beberapa amal masih tertahan. Sempat dipertanyakan lagi, namun malaikat penjaga langit ke-enam menjawab senada: ”Kembalikan amal-amal ini, timpukkan kepelakunya. Aku diutus Allah SWT untuk menahan dan menolak amal-amal yang dilakukan orang kejam—merasa sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak merasa perlu punya empati dansimpati terhadap sesama,”

Begitulah, hilangnya sifat rahmah berarti tercampakkannya amal bagus di langit ke-enam. Hanya sedikit amal tersisa, yang oleh malaikat pembawa amal segera diberangkatkan menuju langit terakhir, tingkat ketujuh. Namun ternyata yang sedikit itu pun sebagian besar tertahan lagi. Sebagai bagian dari tugas, malaikat pembawa amal kembali mempertanyakan ihwal sebabnya, dan malaikat penjaga langit ketujuh menjawab: ”Kembalikan saja ama lini kepelakunya, kali ini hantamkan keseluruh badannya.

Aku diutus oleh Allah SWT menahan dan menolak amal-amal manusia yang keranjingan pamrih—merasa punya jerih payah sehingga menuntut penghargaan dari sesamanya,”. Di langit terakhir, amal manusia—yang paling bagus sekalipun—dicampakkan ketika diliputi shum’ah. Dan hanya sedikit sekali yang lulus, terangkat menuju ke haribaan Allah SWT. Di hadapan Allah SWT, amal yang seperti berlian itu dihaturkan. Namun kemudian Allah SWT bersabda: ”Aku Maha Mengetahui apa yang ada di hati manusia, dan Aku tahu bahwa sebagian besar dari mereka melakukan amal-amal ini bukan karena Aku, tapi karena tujuan-tujuan lain. Sebagian besar dari amal-amal ini tertolak oleh itu, dan hanya sedikit sekali yang Kuterima karena kemurnian ta’dzim dan ketundukan,”.

Rasulullah SAW kemudian memberikan banyak wejangan kepada Muadz bin Jabal RA tentangapa yang seharusnya menjadi tindak laku manusia terhadap sesamanya, agar amal-amali badahnya tidak tertolak di langit.

 ***

Secara sederhana, berdasarkan kearifan lokal, hadist di atas di sadur dalam bentuk tembang lugas: syiir tanpo waton, yang menggambarkan harus adanya keselarasan antara pembelajaranl ahir dan bathin, vertikal (kepadaTuhan) dan horizontal (kepada sesama),

Jika kita ibaratkan tingkahlaku manusia sebagai telur, maka ibadah kita adalah kuningnya, pengamalan syariah kita sebagai putihnya. Tapi yang kemudian menentukan bagus tidaknya kualitas telur itu adalah cangkang telur itu—kulitnya, yang dalam hal ini adalah akhlak. Sebagus apapun nilai ibadah berdasarkan kriteria syariah, namun tanpa diimbangi bagusnya kualitas akhlak—baik kepada Tuhan maupun kepada sesama, sama saja dengan telur tanpa kulitnya: kotor dan tidakberguna.

Begitu juga bagusnya akhlak, tanpa dibarengi denganpelaksanaan ibadah sebagai wujud bhakti dan ketundukan, sama saja dengan telur busuk—bagus di kulit namun hancur di dalam. Bahwa kemudian muncul pengertian, sebagus-bagusnya amali badah seseorang, tidak akan dihitung sebagai amal selama dia tidak mampu menghargai sesama dengan akhlaknya, menunjukkan bahwa kesalehan ibadah sama sekali tidak ada harganya jika tidak diimbangi dengan kesalehan sosial. Karenanya, iman tidak bisa dibangun dari satu sisi saja, apakah itu hakekat atau syariat.

Namun keduanya dibangun secara selaras, didirikan di atas pondasi yang kokoh, dan dievaluasi sepanjang hidup. Sekuat mungkin kita belajar untuk memperbagusn jungkung kita—komunikasi vertikal, namun sejalan dengan itu kita juga memperkuat tata-tertib seduluran kita—komunikasi horisontal. Merujuk pada bulan ini, Ramadan, akan semakin signifikan ibadah kita jika kita berusaha belajar untuk memampukan diri memperlakukan sesama selayaknya kita memperlakukan diri kita sendiri, dengan akhlak yang terpuji. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah: maukahkita?

Baaraka ‘Llaahulanawalakum.

SemogaAlloh SWT senantiasa memberi kita berkah. Amin

*) Penulis adalah Pengasuh PP Salafiah Al Misbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto

 

 

BERITA LAINNYA