Kiai Chusaini: Empat Pesan Sayidina Ali agar Manusia Ringan Menjalani Kehidupan

MOJOKERTO – Rais Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto KH Chusaini Ilyas memberikan taushiyah dalam rapat kerja (raker) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) di wisma NU Kabupaten Mojokerto, Sabtu (5/11).

Dihadapan pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU dan LDNU, Kiai Chusaini mengajak agar sama-sama menjalankan empat pesan Sayidina Ali. Dengan selalu ringan menjalani hidup, serta memajukan NU di masa depan.

Awakmu urip nang dunyo, ben ora kemalan sumpek, petang perkara dawuhe Sayidina Ali iki lakonono (Bila hidupmu di dunia tidak mudah susah, empat pesan Sayidina Ali ini harus dijalani, Red)” tegasnya.

Pertama, ridla bilqalil, artinya kita harus ridla atau menerima dengan lapang dada rezeki yang kita terima meskipun itu sedikit. Dengan ridla, kata Mbah Kiai, begitu beliau akrab disapa, maka kita akan bersyukur. Dengan bersyukur inilah rezeki akan semakin berkah.

”Janji Allah itu nyata. Apabila kamu bersyukur, maka Allah akan menambahnya,” jelas pengasuh pondok pesantren (ponpes) Salafiyah Al Misbar, Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini.

Kedua, khauf minaljalil, artinya takut kepada Allah. Takut ini berarti semakin mendekatkan diri kepada-Nya, serta takut melanggar berbagai aturan dan ketentuan yang telah digariskan.

Seperti tidak memungut benda yang bukan miliknya tanpa izin, dan memaksimalkan segala perbuatannya semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Sebaliknya, bukan malah mendurhakai Allah.

Ketiga, amalu bittanziil, artinya mengamalkan Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan kemampuan. Seperti yang dilakukan warga nahdliyin di bulan ramadan merupakan salah satu pengamalan Alquran. ”Di dalam peringatan itu, pasti diterangkan sebab-sebab diturunkannya Alquran maupun makna dari ayat-ayat kita suci. Dari itulah, mari sama-sama belajar mengamalkan Alquran ini,” tutur kiai kharismatik di Mojokerto ini.

Terakhir, istidadu liyaumir rakhil, yakni bersiap menghadapi hari keberangkatan. Maksudnya, keberangkatan menuju akhirat. Untuk menuju ke sana harus mempersiapkan bekal berupa amal saleh dan takwa kepada Allah.

Lha wong kita mau jalan-jalan saja harus sangu (ada bekal) biar tidak kebingungan saat haus. Atau saat pertemuan dengan pengurus NU tiba-tiba ada urunan, kan malu jika ternyata kita tidak membawa sangu,” kelekar beliau.

Di akhir taushiyah Kiai Chusaini berpesan supaya pengurus NU lebih memperhatikan para generasi muda. ”Syubbanul yaum rijaalul ghadan. Generasi muda hari ini merupakan pemimpin masa depan,” pungkas putra almarhum Kiai Ilyas. (ary/aka)

BERITA LAINNYA