Ini Cerita Kerajinan Keciput Mongol Buatan Kader NU Mojokerto

NAIKNYA harga gula tidak saja memberatkan para ibu rumah tangga, tapi juga dirasakan para pengerajin penganan. Termasuk keciput milik Choirur Rozikin di Dusun Jogodayoh, Desa Jabon Kecamatan Mojoanyar. Bagaiamana kondisinya sekarang.

Hujan deras yang turun sore menjelang petang kemarin dirasakan berbeda oleh sejumlah ibu-ibu di Dusun Jogodayoh Desa Jabon Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

Mereka yang tampak gayeng sedang menyelesaikan pekerjaanya membuat penganan kue keciput seakan tak menggubris hujan yang sedang membasahi perkampungan. Ada yang sedang meracik adonan, menggiling, mencetak, menggoreng hingga mengemas.

Meski berstatus karyawan kerajinan keciput milik Khoirur Rozikin, namun ibu rumah tangga itu tak menunjukkan wajah lelah. "Syukur masih bisa bekerja sudah Alhamdulillah Mas," ujar Khotimah, seorang karyawan sembari mengemas gorengan keciput dengan ukuran lima kilogram.

Perkataan yang keluar dari bibir perempuan itu, sedikit tapi menggelitik memang. Sebab, merasakan naiknya harga gula yang terjadi sejak dua pekan lalu, mereka seakan khawatir jika order penganan yang mengalir pada usaha milik majikannya itu kian menurun. "Gula sekarang memang mahal. Tapi beruntung kita masih bisa bekerja," terangnya.

Lain halnya yang dirasakan Khoirur Rozikin juga pengurus salah satu lembaga PC NU Kabupaten Mojokerto ini. Sang pemilik usaha penganan keciput yang dirintisnya sejak tahun 1998 silam. Ditemui saat melihat usahanya yang berdiri tepat belakang di rumahnya, tak sekalipun dia menujukkan wajah panik. Terutama menghadapi naiknya harga gula yang dipasaran masih tinggi.

Sebab yang tersirat di pikirannya hanyalah bagaimana karyawan itu bisa tetap bekerja. Maka tidak heran meski beberapa kali mengecek adonan hingga hasil gorengan kue tak satu kata yang terucap dari bibirnya menyikapi hasil pekerjaan ibu-ibu sore itu. "Tolong apinya sedikit dibesarkan," katanya pendek.

Sembari terus mengawasi para karyawan, Irul sapaan akrab Khoirur Rozikin mengaku order keciput yang mengalir padanya saat ini tidak mengalami penyusutan. Bahkan terkesan stabil seperti hari-hari sebelumnya. "Order yang masuk masih stabil. Ya seperti biasanya. Kadang datang, kadang tidak," ucapnya pria yang kini menjabat Kades Jabon, Kecamatan Mojoanyar itu tersenyum kecil.

Akan tetapi, Irul tidak dapat menyembunyikan keberatannya kala harga gula sedang mengalami kenaikan. Sebab, di setiap adonan kue keciput, dua bahan pokok yang tidak bisa ditinggalkan adalah gula pasir dan tepung terigu. "Harga gula dan tepung sekarang memang naiknya cukup tinggi," tuturnya.

Tentu atas kenaikan harga bahan pokok penganan cukup memukul alumni mahasiswa STIE Al-Anwar Brangkal Kecamatan Sooko ini. Menyusul, meski pesanan tetap ada, melainkan hal itu tak sebanding dengan harga jual keciput.

"Tapi untuk menaikkan harganya saya belum berani. Khawatir pelanggan keberatan," tukasnya. Guna mengatasi supaya usahanya tidak koleps, dia terpaksa memilih jalur bertahan. Dengan kata lain, mengambil keuntungan pas-pasan, tetapi karyawan yang ada tetap bisa bekerja.

"Untuk sementara hanya itu yang saya bisa. Setidaknya bisa bertahan sampai satu bulan kedepan. Sambil menunggu perkembangan harga gula dan tepung terigu," paparnya. Tetapi, jika nanti harapan supaya harga gula turun bahkan stabil kembali, dalam waktu dekat tak bisa terwujud, bukan tidak mungkin ada dia akan memilih dua pilihan.

Masing-masing menaikkan harga atau menghentikan produksi penganan keciput yang omzet penjualannya sudah mencapai 2 ton perbulan. "Habis mau apalagi sekarang saja sudah bertahan dua minggu," tegasnya. Dua pilihan itu kata Irul memang cukup berat. Di sisi lain, kalau harga keciput dinaikkan, para pelanggan pastinya berfikir dua kali.

Antara membeli atau membatalkan. Sedangkan, satu lainnya berhenti dan merumahkan karyawan yang sudah ada. "Makanya saya pasrah saja. Tapi pastinya dalam waktu dekat harga gula dan tepung kembali stabil. Jika tidak ya harus bagaimana lagi," paparnya. (jprm/aka)

BERITA LAINNYA