Minta Nahdliyin Waspadai Kelompok Radikal Mengatasnamakan Islam

MOJOKERTO - Ribuan santri bersama warga nahdliyin se-Kabupaten Mojokerto menghadiri puncak Hari Santri Nasional (HSN) di halaman PC NU Kabupaten Mojokerto, Sabtu (22/10). Acara yang dikemas dengan Apel Bersama tersebut juga dihadiri kalangan pengasuh pondok pesantren, kiai, ulama dan segenap pengurus PC NU.

 

Di bawah terik sinar matahari, puncak HSN bertema Merajut Kebhinekaan dan Kedaulatan Indonesia itu rasa khidmat terus terpancar di wajah para santri maupun peserta apel yang mengikuti. Hiroh perjuangan pun seolah menyala terang bersama sejumlah probelamtika yang kini sedang membelenggu Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta ini.

Pernyataan tersebut nyatanya sesuai dengan amanat PB NU yang dibacakan pembina apel sekaligus ketua MUI Kabupaten Mojokerto, KH Mashul Ismail. Dalam pernyataanya, meski Bangsa Indonesia telah dinyatakan merdeka sejak 71 tahun yang lalu, belenggu penjajahan nyatanya belum bisa terlepas bebas.

Tiga persoalan besar yakni radikalisme, kemiskinan dan Narkoba menjadi tugas besar para santri dan Nahdliyin dalam menjaga Kebhinnekaan. Dalam sambutannya, PBNU menerangkan tantangan pertama bangsa soal ideologi yang banyak tergerus di akar rumput. Tumbuh suburnya kelompok-kelompok radikal dengan mengatasnamakan Islam seperti ISIS adalah salah satu contoh utamanya.

Belum kering dalam ingatan, seorang pemuda bertingkah brutal saat akan menempelkan stiker berlambangkan ISIS di pos Polisi di kawasan Cikokol Tangerang. Akibatnya, dua anggota polisi dan seorang kapolsek menjadi korban keganasannya dengan aksi tusukan senjata tajam yang dibawa. Ini membuktikan adanya kekeliruan dalam hal meletakkan makna jihad yang justru melahirkan situasi kacau balau.

’’Demikian juga dengan segenap organisasi masyarakat yang anti serta menolak ideologi Pancasila mereka juga harus kita luruskan,’’ kata kyai Hul. Yang kedua, adalah persoalan kemiskinan dan gini rasio yang semakin tinggi menjadi kegagalan dalam pemerataan sehingga terjadi ketimpangan sosial.

Dalam rilis world bank akhir tahun 2015 lalu, 1 persen orang terkaya Indonesai ternyata menguasai tak kurang dari 50,4 persen aset. Tak hanya itu, 10 persen orang terkaya Indonesia, ternyata juga menguasai 70,3 persen total kekayaan di indonesia.

’’Artinya pembangunan belum merata dan belum menyentuh rakyat miskin dan kaum lemah. Padahal islam mengajarkan ekonomi harus tumbuh atas azas keadilan dan pemerataan,’’ tambahnya.

Tantangan yang terakhir adalah meluasnya peredaraan narkoba mulai dari tingkat sosial masyarakat kelas bawah hingga atas. Data menunjukkan, sampai tahun 2016 jumlah pengguna narkoba tercatat mencapai 4 juta orang. Dengan rincian 1,6 juta orang adalah pengguna coba-coba, 1,4 juta orang pengguna aktif dan 943 ribu orang sudah dalam kondisi ketergantungan atau candu.

’’Ini keprihatinan nasioanl kita. Negara telah menghadapi darurat narkoba,’’ imbuh Kiai Mashul lagi. Untuk itu, di momentum hari santri kali ini, agaknya ketiga persoalan itu patut diingat oleh seluruh warga khususnya para santri untuk ikut memperjuangkan bangsa dalam melepaskan belenggu penjajahan.

Persatuan dan kesatuan menjadi titik poin perjuangan dalam menegah perpecahan. Karena perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. ’’Mari kita songsong kehidupan yang lebih baik yang maslahah untuk semua,’’ pungkasnya. (jprm/run/aka)

BERITA LAINNYA